


BBantaeng – Gelombang penolakan terhadap Djufri Kau sebagai calon sekwan dprd Bantaeng terus dilakukan sejumlah legislator.
- kerja sama -

Setelah melakukan penyegelan di pintu ruang Sekwan, gerakan-gerakan unjuk rasa penolakan ini kembali dilakukan.
Kali ini, tembok pun menjadi sasaran aksi protes itu. Kalimat “Tolak Mafia” dan “Kami Butuh Orang Baik” nampak tertulis sebagai bentuk penolakan terhadap Djufri Kau.
Mengenai gelombang protes ini, Ketua DPRD Bantaeng hamsyah ahmad menyebut bahwa internal DPRD masih mendiskusikan siapa yang akan menduduki jabatan sekwan nantinya.
“Untuk sementara masih dipertimbangkan yang terbaik dari yang terbaik,” kata Hamsyah Ahmad, Rabu (4/8/2021).
- Advertisement -
Hamsyah pun merespons bahwa serangkaian aksi yang dilakukan jajarannya itu adalah bentuk protes. “Mungkin bentuk protes,” katanya.
Sebelumnya, Muhammad Asri Bakri mengaku protes ini dilakukan lantaran calon Sekwan yang bakal dilantik tersebut dinilai tidak layak. Utamanya dalam hal komitmen dan komunikasi pemerintahan.
“Pak Jufri kabag organisasi. Saya bermitra selama lima tahun dengan beliau waktu periode lalu. orangnya tidak komitmen, dari sisi komunukasi pun tidak kooperatif,” kata Asri.
BACA JUGA: Pintu Ruang Sekwan DPRD Bantaeng Diberi Garis Polisi
Dikutip dari laman Tribunbantaeng.com, legislator Adityawan Said menilai Djufri Kau sangat arogan.
Menurut Adityawan, jabatan Sekwan tidak pantas diduduki Djufri. Sebab akan berimbas pada anggota DPRD lainnya.
“Ini pendapat pribadi, kalau Saya karakternya ini pak Jufri ini arogan,” ujarnya.
Lembaga DPRD Bantaeng, kata dia, membutuhkan pejabat Sekwan yang dapat merangkul semua anggota Dewan. Ia menganalogikan Sekwan sebagai kepala rumah tangga dalam lembaga DPRD
“Saya butuh dia merangkul teman-teman dan tidak membeda-bedakan teman-teman di DPRD. Karena logikanya kepala keluarga Tidak baik sama anaknya itu bagaimana. Sampai sekarang belum ada tanda-tanda untuk merangkul kita,” ujarnya.
Adityawan melanjutkan, penolakan itu murni karena pola komunikasi Djufri yang buruk. Ia menampik jika aksi protes ini lantaran adanya ‘calon titpan'.
- Advertisement -
“Saya tidak adaji siapa pantas atau tidak sepanjang itu kooperatif. Karena lembaga kita ini bagaimana seorang sekwan menjaga elektabilitas pemerintahan,” jelasnya.
Terkait Police line, kata Adityawan, hanya untuk menegaskan penolakan kepada pejabat Sekwan baru.
“Terkait dengan Police Line itu, orang membeli, banyak di market place. Kalau itu hanya untuk mempertegas bahwa saya menolak begitu,” tuturnya.
Sekedar informasi, saat ini police line tersebut telah dilepas. Dikutip dari Indonesiasatu.co.id, pelepasan police line ini dilakukan oleh pihak polres bantaeng usai berkoordinasi dengan Pimpinan DPRD setempat.